Bersama Membangun

Beudoh Wahae Rakan Tabangun Nanggroe

Rabu, 08 Februari 2012

mengulas kembali kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Asal Usul Kerajaan Islam Peureulak
Menurut kitab yang dikarang oleh Imam Abu Ishaq Al-Makarani yaitu “Idrhatul Haq Fimamlakatil Firlak wal Fasy menagatakan bahwa ”Negeri Peureulak suatu negeri yang tertua di Sumatra, yang namanya tinggal tetap tidak berubah-ubah sepanjang abad, dan sudah terkenal dikalangan musafir yang lalu, beserta para pedagang dunia yang beroperasi di selat Malaka seperti Bangsa Cina, Arab, Persi, Hindustan, Italia, Portugis dan lain-lain. Kemudian para pedagang di daerah ini banyak membeli kayu peureulak untuk dijadikan bahan perahu dan kapal, akhirnya negeri ini diberi nama dengan nama pohon kayu itu yaitu Peureulak.
A.     Peureulak Menjelang Datangnya Islam
            Negeri Peureulak yang jauh sebelum datang islam, sudah punya kontak langsung dengan pedagang-pedagang Cina, Arab, Parsi dan Hindia. Mereka ini tertarik karena di Bandar Peureulak, merupakan pelabuhan yang bebas dan saat itu sangat maju penjualan kayu (kayei) peureulak kepada orang-orang luar untuk mereka buat menjadi perahu, kapal dan lain-lain kebutuhan seperti perabot-perabot rumah tangga. Hal tersebut telah termahsyur kemana-mana hingga nama pohon ini diberi nama untuk negeri tersebut yaitu Negeri Peureulak.
            Kemudian para pedagang dan pengembara sebelum zaman islam yang datang dari Cina, Arab, Parsi, Hindu, Itali, Portugis dan lainnya. Melalui Selat Malaka dan mereka singgah di pelabuhan kayu peureulak, dan terus menyebut tempat mereka singgah itu dengan nama Bandar Peureulak.
            Jauh sebelum islam, bahkan di zaman prasejarah disepanjang pantai sejak dari Kuala Simpang, Langsa, Peureulak, Idi, Julok dan Simpang Ulim sepanjang yang diketahui juaga terdapat bukti-bukti tentang adanya manusia-manusia prasejarah seperti terdapat bukit kapur dan alat-alat kapak genggam.
            Kemudian Negeri Peureulak dikatakan salah satu negeri tertua di sumatra dan zaman sebelum zaman islam negeri yang terletak antara Negeri salasari dan Aru telah mempunyai pemerintahan sekalipun sangat sederhana. Selanjutnya, dengan kedatangan Pangeran Salman dari Persia kerajaan tersebut lebih disempurnakan lagi telah mempunyai raja yang bergelar ”Meurah”, kira-kira sama artinya dengan “Maha Raja” peristiwa ini terjadi tahun 670 M.
            Para pedagang Cina, Arab, Persi dan Hindia banyak diantara mereka yang telah menjadi penduduk di daerah-daerah dagang mereka seperti Negeri Peureulak. Sehingga mereka telah bergaul bahkan telah menjadi penduduk di daerah mereka tinggal yang kemudian telah menjadi penduduk asli Peureulak. 
B.     Peureulak di bawah Dinasti Sassanid
Sebelum islam, saat jaya-jayanya Kemaharajaan Persia di bawah pimpinan “KISRA” dari Dinasti Sassanid. Pada suatu ketika terjadilah perebuatn kekuasaan dikalangan bangsawan Persi, maka salah seorang Putra Mahkota dari Istana Sassanid bernama pangeran Salman terpaksa meninggalkan tanah airnya dan menuju dunia timur.
Ketika dia mengikuti para pedagang yang hendak menuju dunia timur dia berlabuh di pelabuhan Negeri Jeumpa (Bireun) dan setelah kapal tersebut berlayar kembali menuju timur jauh, ternyata Pangeran Salman tidak ikut lagi rombongan pedagang karena Pangeran Salman telah jatuh hati dengan seorang Putri Jelita dari istana Negeri Jeumpa yang bernama Putri Mayang Seludang.
Setelah menetap di istana Jeumpa, Pangeran Salman bermufakat dengan istrinya untuk menuju Timur jauh. Sang Putri tidak keberatan asalkan ayahnda mengizinkan. Setelah mendapat izin dari Maha Raja Pangeran Salman dan Putri Mayang Seludang berangakat menuju Negeri Peureulak, dan dia disambut baik oleh seluruh rakyat Peureulak.
Bandar Peureulak yang ramai, Pangeran Salman berkeinginan menetap di Negeri Peureulak. Setelah Meurah Peureulak meninggal, yang kebetulan tidak mempunyai anak laki-laki, maka rakyat Peureulak mengangkat Pangeran Salman untuk menjadi Meurah Peureulak yang baru. Pada saat Pangeran Salman menjadi Meurah, Negeri Peureulak bertambah maju dan bertambah ramai. Pernikahan Pangeran Salman dengan Putri Mayang Seuludang mereka dianugrahi 4 orang anak yaitu:
1.      Syahir Nuhwi, yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi Meurah Peureulak.
2.      Syahir Tanwi, yang kemudian merantau ke Negeri ibunya Negeri Jeumpa (Bireun) dan diangkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya ynag neninggal.
3.      Syahir Poli, ysng merantau ke barat, dan ditempat tersebut diangkat oleh rakyat menjadi Meurah di Calei, Pidie sekarang.
4.      Syahir Duli, yang setelah dewasa merantau jauh ke barat paling ujung dan berkat kecakapannya disana maka ia diangkat menjadi Meurah Negeri Indra Purba.

Kita telah mengetahui bahwa semua negeri yang berada di sepanjang Selat Malaka telah berada dibawah pemerintahan para meurah-meurah keturunan Dinasti Sassanid dari Persia dipihak ayah dan kerajaan Jeumpa dari pihak ibu. Menurut pendapat para ahli bahwa dari keturunan ini disebut “Kaom Imuem Peut”.
Menurut Prof. Ali Hasyimy mengatakan sebagai berikut:
“perlu saya jelaskan bahwa pada zaman dahulu rakyat Aceh terbagi dalam 4 kelompok besar yang bernama kaom, yaitu:
1.      Kaom Imuem Peut (Kaum Imam Empat)
2.      Kaom Ja Batei (kaum Ja Batu)
3.      Kaom Tok Sandang (Kaum Tok Sandang)
4.      Kaom Lhee Reutoh (Kaum Tiga Ratus)
Dari keturunan Imuem Peut inilah yang memegang peranan memerintah Aceh yaitu menjadi Sulthan-Sulthan kerajaan islam di Aceh sejak dari Kerajaan Islam Pureulak, Kerajaan Isak Takengon, Kerajaan Islam Samudra Pasei, Kerajaan Islam Benua (Tamiang), Kerajaan Islam Darussalam, Kerajaan Islam Tumasik Malaysia, Kerajaan Islam Mataram, Kerajaan Islam Demak, selanjutnya termasuk keturunan wali songo di Jawa. Kemudian telah bercampur denagn kaum seperti tersebut di atas.
C.     Peureulak di bawah Dinasti Sayyed Maulana
Setelah peristiwa mendaratnya Nakhoda Khalifah di Negeri Peureulak, kemudian Sayyed Ali Muktabar menikah dengan Putri Makhdum Tansyuri dari istana Kemaharajaan Peureulak, dan dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah yang kemudian menjadi raja yang memerintah Negeri Peureulak.
Kemudian setelah kurang lebih 50 tahun menyiarkan agama islam kepada masyarakat Peureulak telah bersemi dengan kuat dan mendasar, maka sudah tibalah waktunya lahir sebuah kerajaan islam. Setelah bermusyawarah dengan para ulama, cerdik pandai dan Maharaja Negeri Peureulak sepakatlah mereka untuk memproklamirkan sebuah kerajaan islam. Sesudah matang persiapan yang diperlukan maka tepat pada tanggal 1 Muharram 225 H/840 M bedirinya kerajaan islam Peureulak dan Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah dinobatkan sebagai Sulthan yang pertama.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar