Asal Usul Kerajaan Islam Peureulak
Menurut kitab
yang dikarang oleh Imam Abu Ishaq Al-Makarani yaitu “Idrhatul Haq Fimamlakatil Firlak wal Fasy menagatakan
bahwa ”Negeri Peureulak suatu negeri yang tertua di Sumatra, yang namanya
tinggal tetap tidak berubah-ubah sepanjang abad, dan sudah terkenal dikalangan
musafir yang lalu, beserta para pedagang dunia yang beroperasi di selat Malaka
seperti Bangsa Cina, Arab, Persi, Hindustan, Italia, Portugis dan lain-lain.
Kemudian para pedagang di daerah ini banyak membeli kayu peureulak untuk
dijadikan bahan perahu dan kapal, akhirnya negeri ini diberi nama dengan nama pohon kayu
itu yaitu Peureulak.
A.
Peureulak
Menjelang Datangnya Islam
Negeri
Peureulak yang jauh sebelum datang islam, sudah punya kontak langsung dengan
pedagang-pedagang Cina, Arab, Parsi dan Hindia. Mereka ini tertarik karena di
Bandar Peureulak, merupakan pelabuhan yang bebas dan saat itu sangat maju
penjualan kayu (kayei) peureulak kepada orang-orang luar untuk mereka buat
menjadi perahu, kapal dan lain-lain kebutuhan seperti perabot-perabot rumah
tangga. Hal tersebut telah termahsyur kemana-mana hingga nama pohon ini diberi
nama untuk negeri tersebut yaitu Negeri Peureulak.
Kemudian
para pedagang dan pengembara sebelum zaman islam yang datang dari Cina, Arab,
Parsi, Hindu, Itali, Portugis dan lainnya. Melalui Selat Malaka dan mereka
singgah di pelabuhan kayu peureulak, dan terus menyebut tempat mereka singgah
itu dengan nama Bandar Peureulak.
Jauh
sebelum islam, bahkan di zaman prasejarah disepanjang pantai sejak dari Kuala
Simpang, Langsa, Peureulak, Idi, Julok dan Simpang Ulim sepanjang yang
diketahui juaga terdapat bukti-bukti tentang adanya manusia-manusia prasejarah
seperti terdapat bukit kapur dan alat-alat kapak genggam.
Kemudian
Negeri Peureulak dikatakan salah satu negeri tertua di sumatra dan zaman
sebelum zaman islam negeri yang terletak antara Negeri salasari dan Aru telah
mempunyai pemerintahan sekalipun sangat sederhana. Selanjutnya, dengan
kedatangan Pangeran Salman dari Persia kerajaan tersebut lebih disempurnakan
lagi telah mempunyai raja yang bergelar ”Meurah”, kira-kira sama artinya dengan
“Maha Raja” peristiwa ini terjadi tahun 670 M.
Para
pedagang Cina, Arab, Persi dan Hindia banyak diantara mereka yang telah menjadi
penduduk di daerah-daerah dagang mereka seperti Negeri Peureulak. Sehingga
mereka telah bergaul bahkan telah menjadi penduduk di daerah mereka tinggal
yang kemudian telah menjadi penduduk asli Peureulak.
B.
Peureulak di bawah Dinasti Sassanid
Sebelum islam, saat jaya-jayanya Kemaharajaan Persia
di bawah pimpinan “KISRA” dari Dinasti Sassanid. Pada suatu ketika terjadilah
perebuatn kekuasaan dikalangan bangsawan Persi, maka salah seorang Putra
Mahkota dari Istana Sassanid bernama pangeran Salman terpaksa meninggalkan
tanah airnya dan menuju dunia timur.
Ketika dia mengikuti para pedagang yang hendak menuju
dunia timur dia berlabuh di pelabuhan Negeri Jeumpa (Bireun) dan setelah kapal
tersebut berlayar kembali menuju timur jauh, ternyata Pangeran Salman tidak
ikut lagi rombongan pedagang karena Pangeran Salman telah jatuh hati dengan
seorang Putri Jelita dari istana Negeri Jeumpa yang bernama Putri Mayang
Seludang.
Setelah menetap di istana Jeumpa, Pangeran Salman
bermufakat dengan istrinya untuk menuju Timur jauh. Sang Putri tidak keberatan
asalkan ayahnda mengizinkan. Setelah mendapat izin dari Maha Raja Pangeran
Salman dan Putri Mayang Seludang berangakat menuju Negeri Peureulak, dan dia
disambut baik oleh seluruh rakyat Peureulak.
Bandar Peureulak yang ramai, Pangeran Salman
berkeinginan menetap di Negeri Peureulak. Setelah Meurah Peureulak meninggal,
yang kebetulan tidak mempunyai anak laki-laki, maka rakyat Peureulak mengangkat
Pangeran Salman untuk menjadi Meurah Peureulak yang baru. Pada saat Pangeran
Salman menjadi Meurah, Negeri Peureulak bertambah maju dan bertambah ramai.
Pernikahan Pangeran Salman dengan Putri Mayang Seuludang mereka dianugrahi 4
orang anak yaitu:
1.
Syahir Nuhwi, yang kemudian menggantikan ayahnya
menjadi Meurah Peureulak.
2.
Syahir Tanwi, yang kemudian merantau ke Negeri ibunya
Negeri Jeumpa (Bireun) dan diangkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan
kakeknya ynag neninggal.
3.
Syahir Poli, ysng merantau ke barat, dan ditempat
tersebut diangkat oleh rakyat menjadi Meurah di Calei, Pidie sekarang.
4.
Syahir Duli, yang setelah dewasa merantau jauh ke
barat paling ujung dan berkat kecakapannya disana maka ia diangkat menjadi
Meurah Negeri Indra Purba.
Kita telah mengetahui bahwa semua negeri yang berada
di sepanjang Selat Malaka telah berada dibawah pemerintahan para meurah-meurah
keturunan Dinasti Sassanid dari Persia dipihak ayah dan kerajaan Jeumpa dari
pihak ibu. Menurut pendapat para ahli bahwa dari keturunan ini disebut “Kaom
Imuem Peut”.
Menurut Prof. Ali Hasyimy mengatakan sebagai berikut:
“perlu saya jelaskan bahwa pada zaman dahulu rakyat Aceh terbagi dalam 4
kelompok besar yang bernama kaom, yaitu:
1.
Kaom Imuem Peut (Kaum Imam Empat)
2.
Kaom Ja Batei (kaum Ja Batu)
3.
Kaom Tok Sandang (Kaum Tok Sandang)
4.
Kaom Lhee Reutoh (Kaum Tiga Ratus)
Dari
keturunan Imuem Peut inilah yang memegang peranan memerintah Aceh yaitu menjadi
Sulthan-Sulthan kerajaan islam di Aceh sejak dari Kerajaan Islam Pureulak,
Kerajaan Isak Takengon, Kerajaan Islam Samudra Pasei, Kerajaan Islam Benua
(Tamiang), Kerajaan Islam Darussalam, Kerajaan Islam Tumasik Malaysia, Kerajaan
Islam Mataram, Kerajaan Islam Demak, selanjutnya termasuk keturunan wali songo
di Jawa. Kemudian telah bercampur denagn kaum seperti tersebut di atas.
C.
Peureulak di bawah Dinasti Sayyed Maulana
Setelah peristiwa mendaratnya Nakhoda Khalifah di
Negeri Peureulak, kemudian Sayyed Ali Muktabar menikah dengan Putri Makhdum
Tansyuri dari istana Kemaharajaan Peureulak, dan dari pernikahan tersebut
lahirlah Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah yang kemudian menjadi raja yang
memerintah Negeri Peureulak.
Kemudian setelah kurang lebih 50 tahun menyiarkan
agama islam kepada masyarakat Peureulak telah bersemi dengan kuat dan mendasar,
maka sudah tibalah waktunya lahir sebuah kerajaan islam. Setelah bermusyawarah
dengan para ulama, cerdik pandai dan Maharaja Negeri Peureulak sepakatlah
mereka untuk memproklamirkan sebuah kerajaan islam. Sesudah matang persiapan
yang diperlukan maka tepat pada tanggal 1 Muharram 225 H/840 M bedirinya
kerajaan islam Peureulak dan Sayyed Maulana Abdul Aziz Syah dinobatkan sebagai
Sulthan yang pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar